Drone Mini Menjadi Senjata Rahasia Militer Amerika

Drone Mini Menjadi Senjata Rahasia Militer Amerika – Dalam dunia militer pastinya akan ada beberapa senjata rahasia yang di miliki yang akan di gunakan dalam medan pertempuran. Senjata rahasia yang di gunakan bukan hanya berupa senjata api/senjata tajam, melainkan berupa alat pengintai yang canggih. Militer Amerika menjadi salah satu Militer yang terkenal di dunia dengan memiliki senjata yang sangat canggih dan memiliki kualitas yang sangat sempurna di gunakan dalam medan pertempuran.

Baca juga: Hebohkan Dunia Teknologi Baru Tercanggih

Salah satu senjata rahasia yang di miliki oleh Militer Amerika merupakan drone mini, drone itu di beri naman Black Hornet 3. Berbeda dengan drone yang lainnya yang kita kenal dengan ukuran yang besar dan berisik pada saat drone di terbangkan.

Namun drnone yang di miliki Militer Amerika ini berupa drone mini yang memiliki ukuran hanya sebesar jari tangan orang dewasa. Kemampuan drone ini tak perlu untuk di ragukan lagi, karena drone tersebut di gunakan sebagai alat pengintai dalam pertempuran.

Black Hornet 3 merupakan kendaraan udara tanpa awak (UAV), drone generasi berikutnya dari The Black Hornet Personal Reconnaissance System (PRS), sistem udara tak berawak paling kecil.

Drone tersebut pun jadi amunisi tambahan untuk Tentara Amerika Serikat (AS), yang merupakan bagian dari kontrak senilai USD 2,6 juta dengan Flir, perusahaan pencitraan termal dan teknologi.

Black Hornet 3 mempunyai bobot 32 gram saja. Kendati begitu, drone ini memiliki kemampuan terbang sejauh dua kilometer dengan kecepatan 21 kilometer per jam. Alat ini juga memungkinkan proses pencitraan lebih tajam dari mikrokamera termal.

Flir selaku produsen drone mungil ini menambahkan keunggulan si drone misalnya dapat dikendalikan di wilayah yang tak ada GPS. Alat ini juga memungkinkan untuk mendeteksi ancaman dan pengawasan di manapun sesuai misi yang dijalankan.

“Drone ini mewakili peluang kunci yang disediakan kepada tentara dalam skuat tentara AS dalam perang modern,” sebut CEO Flir James Cannon.

Pihak tentara AS terus mengevaluasi pembelian drone Black Hornet 3 dari Flir tersebut sebelum memutuskan untuk mengerahkan dalam jumlah banyak ke semua unit. Selain tentara AS, drone ini juga diminati oleh tentara Australia dan juga tentara Prancis.

Show Buttons
Hide Buttons